Hari: 19 April 2025

Tragis! Sering Tolak Ajakan Bercinta, Istri Dibakar Suami di Kediri dengan Keji

Peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sangat tragis terjadi di Kediri, Jawa Timur. Seorang istri berinisial AS (30) menjadi korban istri dibakar oleh suaminya sendiri, IR (35). Tindakan keji istri dibakar ini diduga kuat dilatarbelakangi oleh rasa sakit hati dan emosi pelaku lantaran korban sering menolak ajakannya untuk berhubungan intim. Peristiwa istri dibakar ini terjadi di kediaman mereka di wilayah Kecamatan Mojo pada Sabtu dini hari, 19 April 2025, sekitar pukul 02.00 WIB.

Menurut keterangan dari pihak kepolisian Resor Kediri Kota yang menangani kasus ini, kejadian bermula dari cekcok mulut antara pelaku dan korban di dalam rumah mereka. Pertengkaran tersebut diduga dipicu oleh penolakan korban untuk berhubungan intim dengan pelaku. Dalam kondisi emosi yang memuncak, pelaku kemudian nekat menyiramkan бензин ke tubuh korban dan langsung menyulutnya dengan api.

Korban istri dibakar mengalami luka bakar yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Warga sekitar yang mendengar teriakan korban berusaha memberikan pertolongan dan menghubungi pihak kepolisian serta petugas medis. Namun, luka bakar yang terlalu serius membuat nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Petugas kepolisian dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kediri Kota yang tiba di lokasi segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengamankan pelaku IR yang masih berada di sekitar rumah. Pelaku tidak melakukan perlawanan saat diamankan. Berdasarkan pemeriksaan awal, pelaku mengakui perbuatannya istri dibakar karena merasa marah dan sakit hati akibat sering ditolak oleh korban saat diajak berhubungan intim.

Kepala Satreskrim Polres Kediri Kota, AKP Fauzi Lubis, S.H., M.H., saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa istri dibakar tersebut. “Kami sangat menyesalkan kejadian tragis ini. Pelaku telah kami amankan dan akan kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku. Motif pelaku diduga kuat karena emosi sesaat akibat penolakan korban untuk berhubungan intim,” tegas AKP Fauzi Lubis. Pihaknya menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku dan mendalami lebih lanjut terkait latar belakang permasalahan rumah tangga korban. Pelaku akan dijerat dengan pasal tentang kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang dengan ancaman hukuman pidana yang berat. Peristiwa istri dibakar ini menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian emosi dan penyelesaian masalah secara damai dalam rumah tangga.

Unik! Mengintip “Bengkel Burung” di Madiun: Solusi Jitu untuk Burung Kesayangan yang Macet Bunyi

Bagi para pecinta burung berkicau, suara merdu peliharaan adalah kebanggaan tersendiri. Namun, tak jarang burung kesayangan mengalami masalah “mogok” berkicau. Di Madiun, Jawa Timur, fenomena unik hadir sebagai solusi: “bengkel burung”. Ya, layaknya kendaraan bermotor, burung yang bermasalah dengan kicauannya bisa “diservis” di tempat khusus ini.

Bengkel burung di Madiun ini bukan bengkel fisik dengan peralatan mekanik, melainkan tempat berkumpulnya para ahli dan penggemar burung yang memiliki pengetahuan mendalam tentang perilaku dan perawatan burung berkicau. Mereka menawarkan berbagai solusi untuk mengatasi burung yang tiba-tiba berhenti berkicau atau kualitas kicaunya menurun.

Layanan yang ditawarkan di “bengkel” ini beragam. Mulai dari diagnosis penyebab burung macet bunyi, yang bisa disebabkan oleh stres, perubahan lingkungan, pola makan yang tidak tepat, hingga masalah kesehatan. Para ahli akan memberikan saran dan solusi yang tepat, seperti perubahan pola rawatan, pemberian pakan khusus, terapi lingkungan, hingga pengobatan jika diperlukan.

Uniknya, beberapa “bengkel burung” ini juga menerapkan metode tradisional atau alami untuk memulihkan semangat berkicau burung. Misalnya, penggunaan ramuan herbal, terapi embun, atau teknik pemasteran khusus yang disesuaikan dengan kondisi burung. Suasana kekeluargaan dan berbagi pengalaman antar penggemar juga menjadi daya tarik tersendiri dari tempat ini.

Keberadaan “bengkel burung” di Madiun ini menjadi angin segar bagi para pemilik burung yang frustrasi dengan peliharaannya yang enggan berkicau. Mereka tidak hanya mendapatkan solusi praktis, tetapi juga edukasi mengenai cara merawat burung berkicau dengan baik dan benar. Tempat ini menjadi wadah untuk berbagi ilmu dan mempererat tali silaturahmi antar komunitas pecinta burung.

Fenomena “bengkel burung” di Madiun ini menunjukkan betapa besar kecintaan masyarakat terhadap burung berkicau. Mereka rela mencari solusi hingga ke tempat yang unik demi mengembalikan kemerduan suara burung kesayangannya. Inisiatif ini patut diapresiasi sebagai bentuk kearifan lokal dalam merawat dan melestarikan satwa peliharaan.

Para “mekanik” burung ini tak jarang memiliki trik unik yang diwariskan secara turun-temurun, menambah daya tarik tersendiri bagi para pencinta burung yang mencari solusi alternatif untuk peliharaannya.

Tak Senang Ditegur Sopir Bus Ajak Berkelahi Pengemudi Pikap di Kediri

Insiden adu fisik kembali terjadi di jalan raya. Kali ini, seorang sopir bus berinisial AS (42) terlibat sopir berkelahi dengan seorang pengemudi mobil pikap bernama DS (35) di Jalan Raya Kediri-Blitar, tepatnya di wilayah Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu pagi, 19 April 2025, sekitar pukul 09.30 WIB ini dipicu oleh rasa tidak senang AS setelah ditegur oleh DS terkait cara mengemudinya yang dinilai membahayakan.

Menurut keterangan saksi mata di lokasi kejadian, DS yang mengendarai mobil pikap di belakang bus yang dikemudikan AS merasa terganggu dengan manuver bus yang zig-zag dan seringkali memakan jalur lawan. Khawatir akan terjadinya kecelakaan, DS kemudian membunyikan klakson dan memberikan teguran secara lisan saat kedua kendaraan berhenti karena lampu lalu lintas. Namun, teguran tersebut justru membuat AS naik pitam dan terjadilah sopir berkelahi.

Kapolsek Kras, AKP Bambang Sugiarto, S.H., yang dikonfirmasi terkait kejadian tersebut membenarkan adanya insiden sopir berkelahi tersebut. “Kami menerima laporan dari warga terkait adanya keributan antar pengemudi di jalan raya. Setelah petugas kami tiba di lokasi, didapati dua orang pengemudi yang terlibat adu fisik,” ujar AKP Bambang Sugiarto di kantor Polsek Kras pada Sabtu siang.

Lebih lanjut, AKP Bambang Sugiarto menjelaskan bahwa pihaknya telah mengamankan kedua sopir berkelahi tersebut untuk dimintai keterangan lebih lanjut. “Dari hasil pemeriksaan sementara, insiden ini bermula dari teguran seorang pengemudi pikap terhadap sopir bus terkait cara mengemudinya. Namun, sopir bus tidak terima dan malah mengajak berkelahi,” imbuh AKP Bambang Sugiarto. Akibat adu fisik tersebut, kedua pengemudi dilaporkan mengalami luka ringan.

Pihak kepolisian menyayangkan terjadinya insiden sopir berkelahi ini dan mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk selalu mengedepankan sikap sabar dan saling menghormati di jalan raya. Emosi sesaat dapat berakibat buruk dan melanggar hukum. Saat ini, kedua sopir berkelahi tersebut masih menjalani pemeriksaan di Polsek Kras. Pihak kepolisian akan melakukan mediasi antara kedua belah pihak, namun tidak menutup kemungkinan adanya proses hukum lebih lanjut jika tidak ada penyelesaian damai. Insiden ini menjadi pengingat pentingnya menjaga emosi dan etika berkendara demi keselamatan bersama.

Keji! Orang Tua Tega Aniaya Bayi Kandung Hingga Tewas dan Kubur di Depan Rumahnya, Kediri

Sebuah tindakan keji dan tidak berperikemanusiaan terjadi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, di mana sepasang orang tua tega melakukan aniaya bayi kandungnya sendiri hingga meninggal dunia. Lebih mengerikan lagi, setelah aniaya bayi tersebut, pelaku kemudian menguburkan jasad buah hatinya di pekarangan depan rumah mereka. Kasus aniaya bayi yang menggemparkan warga Desa Sumberjo, Kecamatan Kandat ini, terungkap pada Sabtu pagi, 19 April 2025, setelah adanya laporan dari warga sekitar yang curiga dengan perilaku kedua pelaku. Aparat kepolisian Resor Kediri Kota segera melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan kedua orang tua bejat tersebut.

Informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa pelaku yang merupakan pasangan suami istri berinisial AG (25 tahun) dan istrinya, ST (22 tahun), diduga telah melakukan tindakan penganiayaan bayi mereka yang baru berusia tiga bulan secara berulang kali. Motif aniaya bayi ini diduga kuat karena faktor ekonomi dan ketidaksiapan mental kedua pelaku dalam mengasuh anak. Puncaknya, pada Jumat malam, 18 April 2025, diduga terjadi penganiayaan yang menyebabkan bayi malang tersebut meninggal dunia. Untuk menutupi perbuatan kejinya, kedua pelaku kemudian dengan cara menguburkan jasad korban di pekarangan depan rumah mereka.

Kecurigaan warga muncul setelah beberapa hari tidak melihat keberadaan bayi tersebut dan mendapati gundukan tanah mencurigakan di depan rumah pelaku. Setelah didesak oleh warga, kedua pelaku akhirnya mengakui perbuatan penganiayaan yang telah mereka lakukan. Warga yang geram dengan pengakuan tersebut segera melaporkannya kepada pihak kepolisian. Petugas kepolisian Sektor Kandat yang tiba di lokasi segera melakukan penggalian dan menemukan jasad bayi malang tersebut.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kediri Kota, AKBP Wahyudi Heriawan, melalui keterangan pers pada Sabtu siang, 19 April 2025, membenarkan adanya kasus aniaya bayi yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri hingga menyebabkan kematian. “Kami sangat terkejut dan mengecam keras tindakan keji kedua pelaku. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kuat dugaan bahwa bayi tersebut meninggal dunia akibat aniaya bayi yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Kedua pelaku telah kami amankan dan akan kami jerat dengan pasal berlapis terkait kekerasan terhadap anak di bawah umur hingga menyebabkan kematian, dengan ancaman hukuman maksimal. Kami akan melakukan autopsi terhadap jasad korban untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya,” tegasnya. Kasus aniaya bayi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan dan dukungan terhadap keluarga muda dalam mengasuh anak.

© 2026 Harian Kediri

Theme by Anders NorenUp ↑