Hari: 17 April 2025

Manisnya Mangga Asli Kediri Yang Diolah Jadi Krecek Pelem Podang

Kediri, Jawa Timur, tak hanya terkenal dengan julukan Kota Tahu, tetapi juga dengan kekayaan hasil buminya, salah satunya adalah mangga podang. Mangga jenis ini memiliki ciri khas rasa yang manis legit dan aroma yang menggoda. Uniknya, di tangan kreatif warga Kediri, mangga podang tidak hanya dinikmati sebagai buah segar, tetapi juga diolah menjadi camilan tradisional yang unik bernama krecek pelem podang.

Krecek pelem podang, atau yang juga dikenal dengan sebutan karak mangga, merupakan olahan mangga muda yang diiris tipis-tipis, dilumuri abu kayu bakar, kemudian dijemur hingga kering. Proses pelumuran abu ini bertujuan untuk menghilangkan rasa asam pada mangga muda sekaligus memberikan tekstur kenyal pada krecek. Meskipun terlihat sederhana, pembuatan krecek pelem podang membutuhkan ketelatenan dan waktu, mulai dari pemilihan mangga yang tepat hingga proses penjemuran yang memakan waktu berhari-hari.

Rasa Unik dan Cara Menikmati Krecek Pelem Podang

Krecek pelem podang mentah memiliki tekstur yang kering dan kaku, serta berwarna kehitaman akibat lumuran abu. Namun, jangan salah sangka dengan penampilannya. Setelah diolah menjadi berbagai hidangan, krecek pelem podang akan memberikan sensasi rasa yang unik dan menggugah selera. Rasa manis khas mangga berpadu dengan tekstur kenyal yang menyerupai jamur, menjadikannya camilan yang menarik untuk dicoba.

Masyarakat Kediri memiliki beragam cara untuk menikmati krecek pelem podang. Camilan ini seringkali dijadikan lauk pendamping nasi, campuran bothok (pepes kelapa parut), atau bahkan ditumis bersama mi instan. Rasa gurih dan sedikit manis dari krecek pelem podang sangat cocok dipadukan dengan berbagai jenis masakan.

Potensi Krecek Pelem Podang sebagai Kuliner Khas

Krecek pelem podang bukan hanya sekadar camilan tradisional, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kuliner khas Kediri. Keunikan rasa dan proses pembuatannya yang masih tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mencicipi cita rasa autentik daerah ini. Selain itu, krecek pelem podang juga dapat menjadi alternatif pemanfaatan hasil panen mangga podang yang melimpah, terutama saat musim panen raya tiba.

Ribuan Rumah Dibangun untuk Korban Bencana Semeru, Harapan Baru di Tengah Duka

Bencana erupsi Gunung Semeru yang dahsyat telah meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kehilangan tempat tinggal menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para korban. Namun, di tengah duka, harapan baru mulai tumbuh dengan adanya pembangunan ribuan unit rumah untuk merelokasi para korban.

Upaya Pemerintah dan Berbagai Pihak

Pemerintah pusat dan daerah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk organisasi kemanusiaan dan relawan, untuk mempercepat proses pembangunan rumah relokasi. Ribuan unit rumah dengan desain tahan gempa dan material berkualitas sedang dibangun di beberapa lokasi yang aman dari jangkauan erupsi Semeru.

Hunian Layak dan Fasilitas Pendukung

Rumah-rumah yang dibangun tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti akses air bersih, sanitasi yang layak, dan infrastruktur jalan yang memadai. Selain itu, pemerintah juga membangun fasilitas umum seperti sekolah, masjid, dan pusat kesehatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para warga.

Dukungan Psikososial dan Pemulihan Ekonomi

Selain pembangunan fisik, pemerintah juga memberikan dukungan psikososial kepada para korban untuk membantu mereka mengatasi trauma dan kehilangan. Program pemulihan ekonomi juga dijalankan untuk membantu para korban memulai kembali usaha mereka dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Harapan dan Tantangan

Pembangunan ribuan rumah ini diharapkan dapat memberikan harapan baru bagi para korban bencana Semeru. Namun, tantangan masih ada, seperti memastikan pembangunan rumah selesai tepat waktu dan sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Selain itu, perlu juga dipastikan bahwa para korban mendapatkan akses yang sama terhadap fasilitas dan layanan yang disediakan.

Partisipasi Masyarakat

Partisipasi aktif masyarakat sangat penting dalam proses pemulihan pascabencana. Gotong royong dan solidaritas antara warga dapat mempercepat proses pembangunan dan memperkuat semangat kebersamaan.

Pembangunan rumah relokasi ini juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Penggunaan material ramah lingkungan dan penerapan konsep bangunan hemat energi perlu dipertimbangkan untuk menciptakan hunian yang nyaman dan berkelanjutan bagi para korban di bencana Semeru.

Geger! Lansia Ditemukan Tewas di Tengah Kebun Tebu Kediri

Warga Dusun Krajan, Desa Sukamaju, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, digegerkan dengan penemuan seorang lansia yang ditemukan tewas di tengah area perkebunan tebu pada Kamis pagi, 17 April 2025. Penemuan mayat ini sontak membuat warga sekitar panik dan melaporkannya kepada pihak berwajib. Identitas korban kemudian diketahui bernama Kakek Slamet (72 tahun), seorang petani yang tinggal tidak jauh dari lokasi penemuan.

Menurut keterangan dari beberapa saksi mata, jenazah Kakek Slamet pertama kali ditemukan tewas oleh seorang buruh tani yang hendak memulai pekerjaannya di kebun tebu sekitar pukul 07.00 WIB. Saksi tersebut melihat sesosok tubuh tergeletak di antara rimbunnya tanaman tebu dan setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata adalah seorang lansia yang sudah tidak bernyawa. Kondisi jenazah saat ditemukan tewas tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik yang signifikan, namun pihak kepolisian tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian korban.

Petugas dari Inafis Polres Kediri Kota segera mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan. Mereka melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengumpulkan sejumlah barang bukti serta keterangan dari para saksi. Jenazah Kakek Slamet kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kediri untuk dilakukan visum et repertum guna mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Kediri Kota, AKP Agung Tri Wahyudi, saat memberikan keterangan di lokasi kejadian menyatakan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kematian korban. Meskipun tidak ditemukan luka mencurigakan pada tubuh korban saat pertama kali ditemukan tewas, pihaknya akan menunggu hasil visum dari rumah sakit. Dugaan sementara, korban meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya atau terjatuh saat berada di kebun tebu. Pihak kepolisian juga telah menghubungi pihak keluarga korban untuk proses lebih lanjut.

Penemuan lansia yang ditemukan tewas di kebun tebu ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Pihak keluarga menuturkan bahwa Kakek Slamet memang memiliki riwayat penyakit tertentu dan seringkali pergi ke kebun untuk mengontrol tanaman tebunya. Kasus ini masih dalam penanganan pihak kepolisian dan diharapkan penyebab pasti kematian korban dapat segera terungkap. Warga diimbau untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi sebelum adanya hasil resmi dari penyelidikan pihak berwajib.

Viral di Media Sosial, Pemuda Ditangkap Polisi Kediri Akibat Aniaya Kucing

Kasus penganiayaan hewan kembali mencoreng citra masyarakat. Kali ini, seorang pemuda ditangkap oleh Satreskrim Polres Kediri Kota setelah video aksinya menganiaya seekor kucing viral di berbagai platform media sosial. Penangkapan pemuda ditangkap ini dilakukan pada Kamis pagi, 17 April 2025, sekitar pukul 09.00 WIB di kediamannya yang terletak di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Identitas pemuda ditangkap tersebut diketahui bernama Sandi Wijaya (21 tahun), seorang pekerja serabutan.

Kejadian penganiayaan yang dilakukan Sandi terungkap setelah sebuah video singkat berdurasi 27 detik beredar luas di media sosial sejak Rabu malam, 16 April 2025. Dalam video tersebut, terlihat jelas seorang pemuda yang kemudian diidentifikasi sebagai Sandi melakukan tindakan kekerasan terhadap seekor kucing kampung berwarna oranye. Ia tampak menendang kucing tersebut dengan keras hingga terpental dan terlihat kesakitan. Aksi brutal ini sontak menuai kecaman keras dari warganet dan berbagai komunitas pecinta hewan. Banyak yang mendesak pihak kepolisian untuk segera bertindak dan menangkap pelaku.

Menindaklanjuti viralnya video tersebut dan banyaknya laporan dari masyarakat, Satreskrim Polres Kediri Kota bergerak cepat melakukan penyelidikan. Berdasarkan hasil penelusuran digital dan keterangan saksi, identitas pelaku berhasil diungkap. Tim Buser Polres Kediri Kota yang dipimpin oleh Kepala Unit Pidana Umum (Kanit Pidum) Inspektur Polisi Dua (Ipda) Ali Mansur kemudian melakukan penangkapan terhadap Sandi Wijaya di rumahnya tanpa perlawanan. Saat penangkapan, petugas juga mengamankan barang bukti berupa rekaman video penganiayaan dan sepasang sepatu yang diduga digunakan pelaku saat melakukan aksinya.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kediri Kota, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Wahid Ari Setiawan, melalui konferensi pers di Mapolres Kediri Kota pada Kamis siang sekitar pukul 11.00 WIB, membenarkan adanya penangkapan terhadap seorang pemuda terkait kasus penganiayaan kucing yang viral. Beliau menyatakan bahwa pemuda ditangkap tersebut saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Kediri Kota untuk mengetahui motif dan kronologi lengkap penganiayaan tersebut. Pelaku terancam dijerat dengan Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan dan atau Pasal 91B Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, 1 dengan ancaman hukuman pidana 2 penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000. Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dan melaporkan segala bentuk tindak pidana kepada pihak berwajib.

© 2026 Harian Kediri

Theme by Anders NorenUp ↑