Kediri bukan hanya kota industri rokok yang maju, tetapi juga menyimpan Misteri Kutukan Raja Kediri yang masih dipercayai oleh kalangan elite politik di Indonesia hingga hari ini. Konon, ada sebuah kepercayaan mistis bahwa setiap penguasa atau Presiden Republik Indonesia yang berani menginjakkan kaki di tanah Kediri akan segera lengser dari jabatannya. Mitos ini dikaitkan dengan kutukan dari Prabu Jayabaya, raja besar dari Kerajaan Kadiri yang dikenal dengan ramalan-ramalannya yang sangat akurat. Hal ini menyebabkan banyak Presiden di Indonesia cenderung menghindari kunjungan resmi ke kota ini karena khawatir akan dampak politis yang mungkin timbul.
Secara historis, Misteri Kutukan Raja Kediri sering dikaitkan dengan nasib beberapa pemimpin besar bangsa yang memang mengalami kejatuhan tak lama setelah bersinggungan dengan wilayah ini. Meskipun secara logika politik kejatuhan seorang pemimpin dipicu oleh krisis ekonomi atau tekanan massa, bagi masyarakat yang percaya klenik, hal itu dianggap sebagai bukti “sakti” dari kutukan sang raja. Kediri dianggap memiliki energi spiritual yang sangat kuat sebagai bekas pusat kerajaan besar yang pernah menyatukan nusantara, sehingga hanya pemimpin yang memiliki “wahyu” tertentu atau hati yang benar-benar bersih yang dianggap bisa selamat dari pengaruh gaib tersebut.
Menariknya, meskipun Misteri Kutukan Raja Kediri begitu populer, ada satu Presiden yang berani mendobrak tradisi tersebut, yaitu Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beliau pernah mengunjungi Kediri saat terjadi bencana meletusnya Gunung Kelud untuk memberikan bantuan langsung kepada warga. SBY membuktikan bahwa niat baik untuk menolong rakyat jauh lebih kuat daripada rasa takut terhadap mitos lama. Namun, bagi sebagian pengamat politik tradisional, ketakutan para pemimpin lainnya tetaplah nyata karena mereka tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap stabilitas kekuasaan yang mereka pegang.
Bagi masyarakat Kediri sendiri, Misteri Kutukan Raja Kediri justru menjadi semacam kebanggaan daerah yang menunjukkan bahwa kota mereka memiliki wibawa spiritual yang tinggi. Namun, di sisi lain, mitos ini juga bisa menghambat pembangunan jika pejabat tinggi negara jarang berkunjung dan meninjau proyek-proyek strategis di sana. Pemerintah daerah terus berusaha meyakinkan pemerintah pusat bahwa Kediri adalah kota yang ramah dan aman bagi siapa saja. Modernitas dan pembangunan bandara internasional di Kediri diharapkan bisa perlahan mengikis ketakutan irasional tersebut dan menggantinya dengan kolaborasi pembangunan yang nyata.