Hari: 24 April 2025

Kesaksian Tetangga Ungkap Kejanggalan dan Kepanikan Usai Anak di Cilandak Bunuh Ayah, Nenek, dan Tikam Ibunda

Kasus tragis seorang remaja berinisial MAS (14) yang tega menghabisi nyawa ayah kandungnya, APW (40), dan neneknya, RM (69), serta menikam ibunya, AP (40), di Cilandak, Jakarta Selatan, pada Sabtu (30/11/2024) dini hari, menyisakan duka mendalam dan cerita dari para tetangga yang menyaksikan kengerian tersebut.

Para tetangga yang tinggal di Perumahan Bona Indah, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, memberikan kesaksian yang menggambarkan kepanikan dan kengerian setelah peristiwa berdarah itu terjadi. Salah seorang tetangga bernama Nugroho menuturkan bahwa dirinya dihubungi oleh pihak keamanan perumahan sekitar pukul 01.30 WIB. Saat tiba di lokasi, ia mendapati ibu korban, AP, sudah berada di seberang rumah dengan kondisi berlumuran darah.

“Jadi saya dateng jam setengah 2, itu ibu sudah ada di sini (seberang rumah lokasi kejadian), ada bekas darahnya di situ. Iya di sini. Saya dihubungi, kemudian datang,” kata Nugroho di lokasi kejadian, Minggu (1/12/2024). Ia melihat korban AP dalam kondisi sadar namun lemas, dengan pakaian yang sudah basah oleh darah.  

Kesaksian lain datang dari seorang sekuriti perumahan bernama Agus. Ia melihat pelaku, MAS, berjalan kaki dengan cepat di taman perumahan setelah kejadian. Saat ditegur, MAS justru melarikan diri. Agus bersama sekuriti lain berhasil menangkap pelaku yang saat itu pakaiannya sudah berlumuran darah.

Para tetangga juga mengungkapkan bahwa keluarga korban dikenal tertutup. Namun, terungkap bahwa nenek korban, RM, dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan sekitar, termasuk menjadi pengurus pemandi jenazah di masjid.

Pihak kepolisian telah mengambil keterangan dari sejumlah tetangga sebagai bagian dari proses penyelidikan. Kesaksian-kesaksian ini dianggap penting untuk mengungkap kronologi kejadian dan motif pelaku. Berdasarkan keterangan polisi, MAS diduga melakukan penyerangan saat korban sedang tertidur dan menusuk secara acak di berbagai bagian tubuh.

Tragedi ini mengejutkan warga sekitar dan menimbulkan keprihatinan mendalam. Kesaksian para tetangga memberikan gambaran sekilas tentang situasi setelah kejadian mengerikan tersebut terjadi.

Semoga artikel ini dapat memberikan informasi dan manfaat untuk para pembaca, terimakasih !

Eratkan Silaturahmi, Kapolres Kediri Ikuti Salat Subuh Berjamaah Bersama Warga

Momentum kebersamaan dan kedekatan antara aparat kepolisian dengan masyarakat kembali terlihat di Kabupaten Kediri. Pada Kamis (24/04/2025) pagi, Kapolres Kediri, AKBP Budi Santoso, S.I.K., M.H., menunjukkan komitmennya dalam menjalin silaturahmi dengan warga dengan mengikuti Salat Subuh berjamaah di Masjid Agung An-Nur, yang terletak di pusat Kota Kediri. Kehadiran Kapolres dalam ibadah Salat Subuh ini disambut hangat oleh para jamaah dan tokoh masyarakat setempat.

Kegiatan Salat Subuh berjamaah ini bukan hanya sekadar rutinitas ibadah, namun juga menjadi wadah yang efektif bagi Kapolres untuk berinteraksi langsung dengan warga. Usai melaksanakan Salat Subuh, AKBP Budi Santoso menyempatkan diri untuk berdialog dan bertukar sapa dengan para jamaah. Dalam suasana yang penuh keakraban, berbagai aspirasi dan keluhan masyarakat terkait keamanan dan ketertiban di lingkungan sekitar disampaikan kepada Kapolres. AKBP Budi Santoso pun mendengarkan dengan saksama dan memberikan tanggapan serta solusi atas permasalahan yang ada.

Kehadiran Kapolres dalam Salat Subuh berjamaah ini merupakan bagian dari program rutin Polres Kediri dalam rangka meningkatkan sinergitas antara kepolisian dan masyarakat. Melalui kegiatan keagamaan seperti ini, diharapkan tercipta hubungan yang lebih harmonis dan saling percaya antara aparat penegak hukum dan warga. Kapolres Kediri menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen untuk selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya dalam penegakan hukum tetapi juga dalam kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan. “Kami ingin menjadi bagian dari masyarakat Kediri, mendengarkan aspirasi mereka, dan bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban,” ujarnya usai melaksanakan Salat Subuh.

Selain mempererat tali silaturahmi, kegiatan Salat Subuh berjamaah ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keamanan lingkungan. Dengan terjalinnya komunikasi yang baik antara polisi dan warga, diharapkan informasi terkait potensi gangguan keamanan dapat lebih cepat disampaikan dan ditindaklanjuti. Kegiatan Salat Subuh bersama ini menjadi contoh nyata bagaimana kebersamaan dan komunikasi yang baik dapat menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif di Kabupaten Kediri. Rencananya, kegiatan serupa akan terus dilakukan secara bergilir di berbagai masjid di wilayah hukum Polres Kediri.

Menelisik Visi Raksasa: Misi Mulia di Balik Proyek Giant Sea Wall Ujung Timur Jawa

Ujung timur Pulau Jawa, sebuah kawasan yang kaya akan potensi maritim dan keindahan alam, kini tengah bersiap menyambut sebuah proyek infrastruktur ambisius: Giant Sea Wall. Proyek raksasa ini bukan sekadar tembok laut biasa, melainkan sebuah visi besar yang diyakini akan membawa dampak signifikan bagi perlindungan lingkungan, pengembangan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut. Mari kita telaah lebih dalam visi dan misi mulia di balik megaproyek ini.

Visi utama dari proyek Giant Sea Wall di Ujung Timur Jawa adalah untuk melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan intrusi air laut yang semakin mengkhawatirkan akibat perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut. Dengan membangun struktur pertahanan pantai yang kokoh dan terintegrasi, diharapkan lahan-lahan produktif, permukiman warga, dan infrastruktur penting di sepanjang garis pantai dapat terselamatkan dari dampak buruk erosi dan banjir rob.

Misi yang diemban oleh proyek ini sangatlah multidimensi, mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dari segi lingkungan, Giant Sea Wall diharapkan dapat menciptakan ekosistem baru yang lebih stabil dan berkelanjutan. Struktur ini berpotensi menjadi artificial reef yang mendukung kehidupan biota laut, sekaligus melindungi kawasan mangrove dan lahan basah yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologis.

Dari sudut pandang ekonomi, proyek ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor perikanan dan pariwisata. Dengan melindungi kawasan tambak dan pelabuhan dari abrasi, produktivitas perikanan diharapkan meningkat. Selain itu, infrastruktur Giant Sea Wall yang terintegrasi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata baru, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.

Aspek sosial juga menjadi prioritas utama dalam misi proyek ini. Dengan melindungi permukiman warga dari banjir rob dan abrasi, diharapkan tercipta rasa aman dan nyaman bagi masyarakat pesisir. Proyek ini juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan infrastruktur yang lebih baik dan peluang ekonomi yang lebih luas.

Lebih jauh lagi, proyek Giant Sea Wall di Ujung Timur Jawa juga memiliki visi untuk menjadi model pembangunan pesisir yang berkelanjutan bagi wilayah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial sejak tahap perencanaan, proyek ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan pembelajaran berharga bagi pembangunan infrastruktur yang berwawasan lingkungan.

Jelajahi Pesona Sejarah: Berwisata ke 6 Candi Kediri dan Pentingnya Pelajari Sejarah

Kediri, Jawa Timur, bukan hanya dikenal dengan kuliner tahunya yang lezat, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah yang terukir dalam berbagai peninggalan purbakala, terutama candi. Berwisata ke 6 candi Kediri menawarkan perjalanan menarik untuk pelajari sejarah kejayaan masa lalu. Lebih dari sekadar melihat bangunan kuno, sejarah melalui candi memberikan pemahaman mendalam tentang peradaban yang pernah berjaya di tanah air. Mari kita telusuri 6 candi Kediri yang patut dikunjungi dan mengapa penting untuk pelajari di baliknya.

Keenam candi yang menjadi saksi bisu kejayaan Kediri adalah Candi Surowono, Candi Tegowangi, Candi Gurah, Candi Tondowongso, Candi Setono Gedong, dan Candi Klotok. Masing-masing candi memiliki arsitektur dan relief yang unik, menceritakan kisah-kisah dari mitologi Hindu dan Buddha, serta gambaran kehidupan sosial dan budaya pada masanya. Saat mengunjungi Candi Surowono di Kecamatan Pare, misalnya, kita dapat mengagumi relief Ramayana dan Krishnayana yang indah. Sementara itu, Candi Tegowangi di Kecamatan Plemahan menyimpan relief yang berkaitan dengan kisah Sudamala. Dengan pelajari sejarah dan makna relief ini, kita dapat memahami nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut masyarakat Kediri Kuno.

Mengunjungi candi-candi Kediri bukan hanya sekadar kegiatan wisata, tetapi juga kesempatan emas untuk pelajari sejarah secara langsung. Setiap batu yang tersusun, setiap ukiran yang terpahat, menyimpan informasi berharga tentang masa lalu. Dengan pelajari sejarah melalui candi, kita dapat mengetahui tentang sistem pemerintahan, kepercayaan agama, perkembangan seni dan arsitektur, serta interaksi sosial yang terjadi pada masa Kerajaan Kediri yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-11 hingga ke-13 Masehi.

Pentingnya pelajari sejarah melalui wisata candi adalah untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa. Dengan memahami akar sejarah kita, kita dapat mengambil pelajaran berharga dari masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik. Selain itu, wisata sejarah juga dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya agar generasi mendatang juga dapat terus pelajari sejarah melalui peninggalan-peninggalan berharga ini. Jadi, jadwalkan perjalanan Anda ke Kediri dan selami kekayaan sejarahnya melalui keindahan candi-candinya.

Tragis! Pasutri di Kediri Tega Kubur Balita di Samping Rumah

Warga Dusun Tegalrejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, digegerkan dengan kubur balita yang ditemukan di samping rumah seorang pasangan suami istri (pasutri) pada Jumat (25/04/2025) pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Penemuan kubur balita ini bermula dari kecurigaan warga sekitar yang tidak pernah melihat keberadaan anak kecil di rumah pasutri tersebut, meskipun sang ibu dikabarkan pernah hamil.

Setelah melakukan penyelidikan berdasarkan laporan warga, aparat kepolisian Resor Kediri Kota mendatangi rumah pasutri berinisial AG (35 tahun) dan IN (30 tahun). Setelah diinterogasi, keduanya mengakui telah kubur balita yang merupakan anak kandung mereka sendiri. Jasad balita malang yang diperkirakan berusia sekitar dua tahun itu ditemukan terkubur di area pekarangan samping rumah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Menurut keterangan AKBP Wahyudi Heriawan, Kapolres Kediri Kota, motif pasti pasutri kubur balita ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. “Kami masih mendalami keterangan kedua pelaku. Pengakuan awal, anak tersebut meninggal dunia karena sakit beberapa waktu lalu. Namun, mereka tidak melaporkan kematiannya dan justru memutuskan untuk menguburkannya sendiri di samping rumah,” ujar AKBP Wahyudi dalam konferensi pers di Mapolres Kediri Kota pada Jumat siang.

Tim forensik dari RS Bhayangkara Kediri telah melakukan penggalian dan otopsi terhadap kubur balita tersebut untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti dari rumah pelaku, termasuk sisa-sisa pakaian bayi dan alat yang diduga digunakan untuk mengubur korban. Pasutri tersebut saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Kediri Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Kasus tragis pasutri kubur balita ini menuai kecaman keras dari masyarakat sekitar. Mereka tidak menyangka orang tua kandung tega melakukan perbuatan keji tersebut. Pihak kepolisian akan menjerat kedua tersangka dengan pasal tentang perlindungan anak dan atau pasal tentang menyembunyikan kematian dengan maksud menyembunyikan tindak pidana, dengan ancaman hukuman maksimal belasan tahun penjara. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan dan pendampingan terhadap keluarga yang rentan serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan terhadap anak.

© 2026 Harian Kediri

Theme by Anders NorenUp ↑