Hari: 24 Mei 2025

Ironi Jembatan Rp 5 Miliar Tasikmalaya: Hanya Jadi Monumen

Investasi infrastruktur seharusnya membawa manfaat. Namun, di Tasikmalaya, ada sebuah ironi besar, jembatan senilai Rp 5 miliar yang dibangun di Kecamatan Salawu kini hanya menjadi monumen. Alih-alih berfungsi, jembatan ini tak bisa diakses kendaraan. Sebuah proyek mangkrak yang menyisakan tanda tanya.

Jembatan di Tasikmalaya ini sejatinya menghubungkan dua desa. Desa Tenjowaringin dengan Desa Salawu. Harapannya, akan mempermudah akses transportasi dan perekonomian warga. Namun, kenyataannya jauh panggang dari api.

Penyebab utama tak berfungsinya jembatan adalah masalah akses jalan. Jalur menuju jembatan masih berupa tanah. Bahkan di salah satu sisi, tidak ada jalan sama sekali. Jembatan ini seolah “menggantung” di tengah kehampaan.

Warga setempat merasa kecewa berat. Mereka telah lama menantikan jembatan ini. Mimpi untuk memiliki akses yang lebih baik kini pupus. Proyek miliaran rupiah ini berakhir sia-sia.

Pembangunan jembatan dimulai pada tahun 2021. Dikerjakan oleh dua dinas berbeda. Dinas Bina Marga dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Sayangnya, koordinasi antar dinas ini patut dipertanyakan.

Pemerintah daerah diduga kurang perencanaan matang. Prioritas pembangunan jembatan ini seolah tergesa-gesa. Tanpa mempertimbangkan aksesibilitas yang memadai. Sehingga, proyek ini menjadi mubazir.

Anggaran Rp 5 miliar yang digelontorkan berasal dari APBD. Dana publik yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan masyarakat. Kini terbuang percuma karena kesalahan perencanaan. Ini adalah kerugian besar bagi daerah.

Warga berharap pemerintah segera bertindak. Menyelesaikan pembangunan akses jalan. Atau setidaknya menjelaskan mengapa proyek ini terbengkalai. Pertanggungjawaban publik sangat dibutuhkan.

Ironi jembatan ini menjadi sorotan. Sebuah contoh buruk dari proyek infrastruktur yang tidak efektif. Menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah lain. Pentingnya perencanaan yang komprehensif.

Kisah jembatan ini juga viral di media sosial. Mengundang berbagai komentar dari warganet. Banyak yang menyayangkan pemborosan anggaran. Dan mempertanyakan kinerja pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya harus segera berbenah. Memastikan setiap proyek pembangunan. Memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Jangan sampai ada lagi “monumen” serupa.

Masyarakat Tasikmalaya berhak mendapatkan infrastruktur yang layak. Yang benar-benar berfungsi dan bermanfaat. Bukan sekadar bangunan mahal yang tak berguna.

Kediri dalam Pusaran Konflik: Fenomena Kekerasan Antar-Remaja, Ormas, dan Desa yang Meresahkan

Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang dikenal dengan keragaman sosial dan budayanya, belakangan ini kerap diwarnai oleh insiden konflik fisik yang melibatkan berbagai kelompok, mulai dari antar-remaja, antar-ormas, hingga antar-desa. Fenomena ini menimbulkan keresahan mendalam di tengah masyarakat, mengancam ketertiban umum, dan merusak citra daerah.

Konflik antar-remaja seringkali berakar dari hal-hal sepele, seperti perselisihan pribadi, rivalitas antar kelompok atau sekolah, hingga provokasi di media sosial. Di Kediri, kasus tawuran antar pelajar atau antar kelompok pemuda, termasuk yang terkait dengan oknum perguruan pencak silat, telah menjadi sorotan. Kematangan emosi yang belum stabil pada remaja, ditambah dengan tekanan kelompok dan keinginan untuk diakui, seringkali menjadi pemicu tindakan kekerasan yang berujung pada luka-luka hingga korban jiwa. Peristiwa bentrokan antar perguruan silat di wilayah Kecamatan Ngadiluwih, meskipun berujung damai, menunjukkan potensi konflik yang laten.

Sementara itu, konflik antar-ormas (organisasi masyarakat) juga tak jarang terjadi. Bentrokan antarkelompok ormas bisa dipicu oleh persaingan pengaruh, sengketa lahan, atau perbedaan pandangan terhadap suatu isu. Kejadian seperti bentrokan suporter sepak bola di perbatasan Malang-Kediri, yang melibatkan ratusan orang, juga menunjukkan bagaimana identitas kelompok dapat memicu kekerasan fisik ketika dipicu oleh misinformasi atau provokasi. Konflik ini tidak hanya menimbulkan kerugian fisik dan materiil, tetapi juga menciptakan ketakutan di kalangan warga.

Terakhir, konflik antar-desa, meski tidak seintens antar-remaja atau ormas, juga pernah terjadi di Kediri. Umumnya, konflik ini dipicu oleh sengketa tapal batas, perebutan sumber daya alam (misalnya pengelolaan hutan), atau masalah pengelolaan lahan. Konflik pengelolaan hutan di LMDH Adil Sejahtera di Kediri yang melibatkan perbedaan kepentingan warga dan dugaan penyelewengan lahan adalah contoh bagaimana isu sumber daya dapat memicu perselisihan serius antar warga desa.

Penyebab umum dari berbagai jenis konflik fisik ini meliputi kurangnya komunikasi, kesalahpahaman, rendahnya toleransi, hingga provokasi dari pihak tidak bertanggung jawab. Ditambah lagi, kondisi emosional yang belum stabil pada remaja dan rasa solidaritas kelompok yang berlebihan seringkali menjadi pemicu utama.

Pemerintah Kabupaten Kediri, aparat kepolisian, TNI, tokoh masyarakat, dan lembaga terkait terus berupaya meredam dan mencegah konflik. Mediasi, dialog antarpihak, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan, serta program-program edukasi tentang resolusi konflik dan pentingnya persatuan, adalah langkah-langkah yang terus digalakkan.

© 2026 Harian Kediri

Theme by Anders NorenUp ↑