Kabar gembira datang dari Gunungkidul, Yogyakarta. Makanan tradisional yang dulunya menjadi pangan pokok masyarakat setempat, thiwul, kini resmi mendapatkan pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Penetapan HaKI ini menjadi bentuk perlindungan agar produk budaya makanan yang kaya sejarah dan nutrisi ini tidak diklaim oleh pihak lain.
Thiwul, makanan berbahan dasar tepung ketela pohon yang dikeringkan dan ditumbuk, memiliki nilai historis yang mendalam bagi masyarakat Gunungkidul. Sebelum nasi menjadi makanan utama, thiwul adalah sumber karbohidrat penting. Rasanya yang khas dan teksturnya yang unik menjadikannya bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Gunungkidul.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Chairul Agus Mantara, menyampaikan bahwa penetapan HaKI untuk thiwul adalah langkah penting dalam melestarikan warisan budaya tak benda. Pihaknya menegaskan bahwa langkah ini bukan akhir, melainkan awal dari upaya pengembangan thiwul dalam berbagai varian, seperti thiwul manis, goreng, hingga instan, dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
Thiwul dikenal memiliki kandungan serat yang tinggi dan kadar gula yang rendah, sehingga sangat baik untuk kesehatan, terutama bagi mereka yang sedang menjalani diet. Kandungan nutrisinya yang baik menjadikan thiwul bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga produk yang berpotensi untuk dikembangkan lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap dengan adanya HaKI ini, thiwul akan semakin dikenal dan dihargai, baik di tingkat nasional maupun internasional. Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat melalui pengembangan produk budaya makanan yang unik ini.
Penetapan HaKI untuk thiwul merupakan pengakuan atas kekayaan intelektual komunal masyarakat Gunungkidul. Langkah ini menjadi contoh bagaimana produk budaya tradisional dapat dilindungi dan dikembangkan untuk kemajuan daerah dan pelestarian warisan budaya.
Kini, thiwul tak hanya dinikmati dalam bentuk tradisional dengan parutan kelapa dan gula merah. Berbagai inovasi produk olahan thiwul mulai bermunculan, seperti thiwul instan yang praktis, thiwul rasa buah, hingga camilan modern berbahan dasar thiwul. Langkah ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda dan memperluas pasar produk budaya makanan khas Gunungkidul ini, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani singkong sebagai bahan baku utama thiwul.