Bagi siapa pun yang pernah menyaksikan pertunjukan Jaranan di Jawa Timur, pertanyaan mengenai apakah Jaranan Kediri kesurupan massal seringkali muncul karena pemandangan ekstrem di mana para penari melakukan aksi di luar nalar. Jaranan atau Kuda Lumping dari Kediri dikenal sebagai salah satu aliran yang paling kuat mempertahankan sisi magis dan ritualnya dibandingkan dengan daerah lain. Penonton akan disuguhkan aksi penari yang memakan kaca, mengupas sabut kelapa dengan gigi, hingga dicambuk dengan kekuatan penuh namun tidak terluka. Fenomena ini memicu perdebatan antara skeptisisme medis dan kepercayaan masyarakat akan adanya kekuatan supranatural yang merasuki tubuh sang penari.
Untuk bongkar sisi gelap & magis tarian kuda lumping ini, kita harus memahami peran penting seorang “Gambuh” atau pawang. Sang Gambuh bertanggung jawab memanggil energi leluhur atau roh melalui sesaji dan rapalan doa tertentu untuk masuk ke tubuh penari (kondisi ndadi). Saat dalam kondisi kesurupan, kesadaran diri sang penari dianggap hilang dan digantikan oleh karakter hewan atau roh penunggu wilayah tersebut. Meskipun terlihat menakutkan bagi orang awam, kondisi ini dalam konteks tradisi dianggap sebagai bentuk pembersihan energi negatif di suatu lingkungan. “Sisi gelap” yang sering dibicarakan sebenarnya adalah bentuk katarsis atau pelepasan emosi dan beban spiritual kolektif masyarakat desa yang divisualisasikan melalui tarian.
Selain magis, upaya bongkar sisi gelap & magis tarian kuda lumping juga mengungkap sisi artistik dan struktur pertunjukan yang sangat rapi. Jaranan Kediri memiliki beberapa jenis, seperti Jaranan Pegon, Jaranan Senterewe, dan Jaranan Dor. Setiap jenis memiliki perbedaan pada irama gamelan, kostum, dan tingkat kecepatan gerak. Kediri sendiri telah menetapkan Jaranan sebagai ikon kebudayaan daerah yang dilindungi. Meskipun unsur kesurupan massal menjadi daya tarik utama, aspek musik perkusif yang enerjik dan koreografi yang kompak menunjukkan bahwa Jaranan adalah sebuah bentuk orkestrasi seni rakyat yang membutuhkan disiplin latihan yang sangat tinggi dari para pemainnya sebelum mereka benar-benar tampil secara spiritual.
Namun, di era modern, narasi tentang Jaranan Kediri kesurupan massal seringkali dibumbui dengan sensasionalisme demi kebutuhan konten digital. Hal ini menjadi tantangan bagi para pelestari budaya agar nilai sakral Jaranan tidak turun menjadi sekadar atraksi sirkus murahan. Penting bagi masyarakat untuk melihat Jaranan sebagai bagian dari sejarah perlawanan rakyat di masa lalu dan media komunikasi sosial. Upaya standarisasi pementasan yang aman dan tetap menjaga kaidah adat dilakukan agar para penari terhindar dari cedera fatal. Jaranan adalah pengingat bahwa dalam kebudayaan Jawa, batas antara dunia fisik dan metafisik sangatlah tipis dan selalu berdampingan secara harmonis.