Kabupaten Kediri kembali menjadi buah bibir masyarakat setelah munculnya narasi mengenai Misteri Patung Tua Kediri yang dikabarkan dapat berpindah tempat secara gaib pada malam-malam tertentu. Sebuah patung batu kuno yang terletak di salah satu situs peninggalan kerajaan masa lalu dilaporkan tidak berada pada posisi aslinya oleh beberapa warga dan penjaga situs. Cerita ini dengan cepat menyebar di media sosial, memicu perdebatan sengit antara mereka yang mempercayai fenomena supranatural dengan mereka yang skeptis dan menganggap berita tersebut hanyalah hoaks demi menarik perhatian wisatawan.
Membahas Misteri Patung Tua Kediri, kita harus melihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Dari sisi klenik, masyarakat yang kental dengan budaya Jawa percaya bahwa patung-patung kuno sering kali memiliki “penjaga” atau energi spiritual tertentu yang bisa memanifestasikan diri dalam bentuk pergeseran fisik jika merasa tidak nyaman atau ingin memberikan peringatan. Narasi ini diperkuat dengan testimoni beberapa pendaki atau peziarah yang mengaku melihat posisi patung berubah saat mereka kembali dari arah yang berbeda. Namun, secara fisik, belum ada bukti rekaman video yang secara jelas menunjukkan patung tersebut bergerak dengan sendirinya.
Di sisi lain, penyelidikan mengenai Misteri Patung Tua Kediri dari sudut pandang logis menunjukkan adanya kemungkinan aktivitas manusia atau faktor alam. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa laporan perpindahan patung bisa disebabkan oleh ilusi optik akibat pencahayaan yang berbeda atau sudut pandang pengamat yang tidak konsisten. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa narasi misteri ini sengaja dihembuskan oleh oknum tertentu untuk menutupi aksi pencurian benda cagar budaya atau perusakan situs. Perpindahan posisi patung bisa jadi dilakukan secara manual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan maksud tertentu.
Fenomena Misteri Patung Tua Kediri ini memberikan dampak signifikan terhadap tingkat kunjungan ke situs tersebut. Banyak orang yang penasaran datang untuk membuktikan sendiri kebenaran cerita tersebut, yang di satu sisi meningkatkan pendapatan ekonomi warga sekitar. Namun, membludaknya pengunjung tanpa pengawasan yang ketat justru berisiko merusak kelestarian artefak kuno tersebut. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan diharapkan segera memasang kamera pengawas (CCTV) di area situs untuk memastikan keamanan sekaligus memberikan klarifikasi faktual guna mengakhiri polemik di masyarakat.