Proses Penyusunan benang lusi bermotif geometris merupakan tahapan paling krusial dalam pembuatan kain tenun ikat tradisional di Sentra Kerajinan Tenun Bandar Kidul, Kota Kediri, Jawa Timur. Tenun ikat Kediri tersohor akan kehalusan serat kainnya serta keindahan ragam motif geometris kontemporer yang sarat akan nilai estetika budaya. Berbeda dengan teknik tenun biasa, motif pada tenun ikat dibentuk sebelum kain ditenun, yaitu melalui proses pengikatan benang lusi menggunakan tali plastik kedap air sebelum dimasukkan ke dalam bejana pewarnaan. Ketepatan dalam menyusun dan mengikat helaian benang lusi menjadi penentu utama kerapian pola motif yang tercipta pada kain tenun hasil akhirnya.
Pengerjaan diawali dengan menyiapkan ratusan gulungan benang katun atau sutra berkualitas tinggi yang diseleksi tingkat kehalusan seratnya. Benang-benang tersebut kemudian direntangkan dan digulung pada bingkai kayu peningkat (penghanian) untuk mengatur jumlah dan kerapatan benang lusi sesuai dengan panjang kain yang akan dibuat. Pengrajin tenun Kediri yang berpengalaman kemudian menggambar pola sketsa geometris—seperti motif belah ketupat, garis tumpal, atau alur zig-zag modern—langsung di atas lembaran kumpulan benang lusi yang telah terikat kencang pada bingkai perentang tersebut.
Selanjutnya, pengrajin memasuki tahapan mengikat kelompok-kelompok benang lusi menggunakan tali rafia atau tali sintetis kedap air sesuai garis gambar pola motif. Proses Penyusunan ikatan ini menuntut ketelitian matematis yang amat tinggi; bagian benang yang terikat rapat oleh tali plastik tidak akan terkena resapan cairan pewarna sewaktu dicelupkan ke dalam bejana warna. Jika kain tenun dirancang memiliki kombinasi tiga warna kontras, maka proses pengikatan, pencelupan warna, dan pembukaan ikatan tali harus dilakukan secara berulang-ulang dalam tahapan bertingkat yang membutuhkan waktu penggarapan berhari-hari oleh perajinnya.
Setelah seluruh tahapan pencelupan warna selesai dan tali pengikat dilepas, benang-benang lusi yang telah bermotif dijemur hingga mengering sempurna di tempat teduh. Benang lusi bermotif ini kemudian dipasang satu per satu pada alat tenun bukan mesin (ATBM) dengan ketelitian tinggi agar susunan motif geometris berada pada posisi simetris. Penenun kemudian menggerakkan kayu pakan secara perlahan, menyelipkan benang pakan melintasi benang lusi, menyatukan ikatan serat hingga kain tenun ikat Kediri berstruktur halus, tebal, dan bermotif indah terbentuk secara sempurna di atas papan tenun.
Hasil mahakarya kain tenun ikat khas Bandar Kidul Kediri ini kini menjadi pilihan favorit bagi para perancang busana nasional untuk dijadikan bahan kemeja formal, gaun pesta eksklusif, maupun busana etnik modern. Melalui Proses Penyusunan yang mengandalkan keahlian murni tangan-tangan terampil perajin lokal, tradisi tenun ikat Kediri berhasil bertahan kuat di tengah gempuran industri tekstil buatan mesin pabrikan. Dukungan promosi pameran dari pemerintah daerah kian memperluas pemasaran kain tenun Kediri ke berbagai mancanegara. Pelestarian kriya tekstil tradisional ini menjadi kebanggaan warisan budaya bangsa Indonesia.