Kota Kediri tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan bahasa internasional melalui keberadaan Kampung Inggris Kediri, tetapi juga pusat seni kain tradisional bernilai tinggi. Salah satu warisan budaya unggulan yang tetap bertahan hingga kini adalah produk kain tenun ikat buatan tangan. Keindahan helai kain ini lahir dari proses pembuatan manual yang rumit dan membutuhkan tingkat ketelitian ekstra dari penenunnya.
Tahapan awal pembuatan tenun manual dimulai dari penyusunan helai benang katun atau sutra pada bingkai kayu khusus. Benang-benang tersebut kemudian diikat menggunakan tali plastik sesuai dengan pola motif hiasan tradisional yang telah dirancang sebelumnya. Bagian benang yang terikat tali tidak akan terkena resapan zat warna pada saat celupan cairan pewarna dilakukan.
Proses pewarnaan benang kain tenun manual dikerjakan secara berulang kali guna mendapatkan ketajaman warna motif yang diinginkan pengrajin. Setelah proses pencelupan warna selesai, ikatan tali pada benang dibuka satu per satu hingga memunculkan ragam corak motif yang cantik. Benang yang telah diwarnai kemudian dikeringkan di tempat teduh sebelum dipindahkan ke alat tenun.
Penenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin untuk merangkai benang pakan dan benang lungsin menjadi selembar kain yang utuh secara manual. Setiap hentakan pakan dan dorongan sisir kayu dikerjakan menggunakan tenaga manusia dengan ritme yang stabil dan presisi tinggi. Keahlian penenun dalam menjaga kerapian kerapatan benang menentukan kehalusan kualitas tekstur kain tenun.
Satu lembar kain tenun berkualitas membutuhkan waktu pengerjaan berkisar antara beberapa minggu hingga berbulan-bulan tergantung tingkat kerumitan motif. Corak khas seperti motif tirto tejo atau ceplok menjadi identitas estetis kain tradisional Kediri yang sangat diminati pencinta fesyen. Lembaran kain ini dapat diolah menjadi pakaian formal modern, sarung, maupun selendang anggun.
Upaya melestarikan kain buatan tangan ini terus dilakukan melalui regenerasi penenun muda serta inovasi pewarnaan yang ramah lingkungan. Nilai historis dan rumitnya proses pengerjaan menjadikan kain ini memiliki harga jual yang tinggi serta eksklusif di pasar busana. Memakai produk lokal merupakan bentuk apresiasi nyata terhadap karya seni tradisional Nusantara.