Kabupaten Kediri di Jawa Timur menyimpan kekayaan situs purbakala tersembunyi yang menjadi saksi bisu kejayaan peradaban kerajaan masa lalu di bumi Nusantara, sebuah potensi arkeologis yang menanti untuk ditelusuri melalui agenda Eksplorasi Candi Surowono. Kompleks rumah ibadah suci peninggalan Kerajaan Majapahit abad ke-14 ini terletak di Desa Canggu, Kecamatan Badas, dan dibangun sebagai tempat pendarmaan bagi Bhre Wengker, seorang tokoh bangsawan penting yang dihormati pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Menjelajahi setiap sudut reruntuhan bangunan batu andesit ini memberikan pemahaman mendalam mengenai tingginya keahlian arsitektur, teknologi sipil kuno, serta kedalaman falsafah spritual masyarakat Jawa klasik terdahulu.

Daya tarik utama yang menjadi fokus para peneliti dan wisatawan peminat sejarah saat melakukan aktivitas kunjungan adalah keberadaan relief-relief pahatan batu yang terpahat rapi di sepanjang dinding kaki candi tradisional tersebut. Pahat-pahatan dinding tersebut mengisahkan berbagai cerita fabel dan epik sastra kuno yang sarat akan pesan moralitas kehidupan, seperti kisah Arjunawiwaha, Bubuksah, dan Sri Tanjung. Melalui kegiatan Eksplorasi Candi Surowono yang terstruktur, kita dapat menelaah bagaimana nilai-nilai luhur mengenai kesetiaan cinta, pengorbanan batin, serta perjuangan menegakkan kebenaran spritual disampaikan oleh para leluhur melalui media seni rupa pahat batu yang bernilai estetika tinggi.

Selain mengagumi keindahan arsitektur vertikal bangunan suci, para petualang sejarah juga disuguhi keunikan sistem teknologi pengairan kuno berupa terowongan bawah tanah buatan yang terletak tidak jauh dari lokasi kompleks candi. Saluran air bawah tanah yang dikenal dengan istilah gua surowono ini merefleksikan kecerdasan rekayasa hidrolik masa lampau dalam mengelola pasokan air bersih untuk kebutuhan pertanian masyarakat agraris kediri kuno. Penggabungan fungsi religiusitas tempat suci dengan infrastruktur tata kelola air bersih ini membuktikan bahwa agenda Eksplorasi Candi Surowono menawarkan wawasan pengetahuan sains masa lalu yang sangat luas dan mencengangkan peradaban modern hari ini.

Namun, upaya pengembangan kawasan cagar budaya ini menghadapi kendala keterbatasan fasilitas penunjang pariwisata edukatif serta minimnya papan informasi digital yang menjelaskan detail sejarah narasi relief secara komprehensif bagi pengunjung awam. Pemerintah daerah bersama komunitas pencinta sejarah setempat kini mulai mengoptimalkan pemanfaatan teknologi kode QR interaktif di area situs guna mempermudah akses informasi data arkeologis secara instan melalui gawai pintar wisatawan. Program pemeliharaan kebersihan fisik batu andesit dari lumut kerak juga rutin digalakkan guna mencegah pelapukan dini akibat faktor cuaca ekstrem perkotaan.