Kabar duka menyelimuti Kabupaten Kediri setelah seorang ayah ditemukan mengakhiri hidupnya di rumahnya yang terletak di Desa Sumberjo, Kecamatan Ngasem. Pria yang diketahui bernama Suyanto (42 tahun) tersebut diduga nekat mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi akibat terlilit utang. Peristiwa tragis ini terjadi pada hari Rabu, 30 April 2025, dan sontak membuat keluarga serta warga sekitar terkejut dan berduka.

Informasi awal yang dihimpun dari pihak kepolisian dan keterangan saksi di lokasi kejadian menyebutkan bahwa Suyanto ditemukan mengakhiri hidupnya oleh istrinya, Siti (38 tahun), sekitar pukul 06.30 WIB. Siti yang baru saja kembali dari pasar mendapati suaminya sudah dalam keadaan tidak bernyawa di ruang belakang rumah. Sontak, ia berteriak histeris dan mengundang perhatian warga sekitar yang kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.

Petugas dari Polsek Ngasem yang tiba di lokasi segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengidentifikasi korban. Berdasarkan pemeriksaan awal, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Kuat dugaan bahwa Suyanto mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Di lokasi kejadian, petugas juga menemukan surat wasiat yang diduga ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya. Dalam surat tersebut, korban menuliskan tentang beban utang yang membuatnya putus asa dan tidak sanggup lagi menghadapinya.

Kapolsek Ngasem, AKP Agus Purnomo, saat dikonfirmasi di lokasi kejadian membenarkan adanya peristiwa tragis tersebut. “Kami menduga kuat bahwa motif korban mengakhiri hidupnya adalah karena masalah ekonomi, yaitu terlilit utang. Hal ini diperkuat dengan adanya surat wasiat yang ditemukan di TKP,” ujarnya. AKP Agus menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan visum et repertum terhadap jenazah korban di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri untuk memastikan penyebab kematian.

Keterangan dari beberapa tetangga korban juga menguatkan dugaan bahwa Suyanto sedang mengalami kesulitan ekonomi. Beberapa waktu terakhir, korban sering terlihat murung dan tertutup. Ia juga diketahui memiliki sejumlah pinjaman yang jatuh tempo. Pihak keluarga korban, terutama sang istri, tampak sangat terpukul dengan kejadian ini. Mereka tidak menyangka bahwa Suyanto akan mengambil jalan pintas seperti ini.

Kasus seorang ayah yang mengakhiri hidupnya karena terlilit utang ini menjadi pengingat akan beratnya tekanan ekonomi yang dapat dialami oleh sebagian masyarakat. Pihak kepolisian mengimbau kepada masyarakat yang sedang menghadapi masalah ekonomi atau tekanan hidup lainnya untuk tidak mengambil jalan pintas dan segera mencari bantuan atau dukungan dari keluarga, teman, atau profesional. Pemerintah daerah juga diharapkan dapat meningkatkan program-program bantuan ekonomi dan kesehatan mental bagi masyarakat yang membutuhkan.