Kota Kediri memiliki permata sejarah dan spiritual yang sangat dihormati, yakni kompleks makam dan masjid Setono Gedong. Memasuki bulan Ramadan, Kajian Malam di masjid bersejarah ini menjadi magnet bagi para pencari ilmu yang ingin memahami lebih dalam tentang esensi ibadah puasa dari sudut pandang fikih maupun tasawuf. Dengan latar belakang arsitektur yang memadukan unsur Islam dan Hindu-Buddha peninggalan masa lampau, kajian ini menghadirkan suasana yang sangat tenang dan penuh wibawa. Para jemaah dari berbagai penjuru Kediri berkumpul setelah pelaksanaan shalat tarawih untuk menyimak wejangan dari para kiai yang dikenal memiliki kedalaman ilmu agama yang mumpuni.

Topik yang diangkat dalam Kajian Malam di Setono Gedong sering kali berfokus pada pengendalian diri dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Puasa tidak hanya dipahami sebagai aktivitas fisik menahan lapar, tetapi sebagai latihan untuk menata hati dari penyakit-penyakit batin seperti sombong, dengki, dan rakus. Lokasi masjid yang berada di area situs arkeologi memberikan kesan bahwa ibadah adalah kelanjutan dari sejarah panjang penyebaran Islam yang damai di tanah Jawa. Jemaah diajak untuk merenung di tengah keheningan malam, menyerap setiap butir hikmah di bawah pilar-pilar kayu kuno yang telah menjadi saksi bisu ketaatan umat selama ratusan tahun.

Selain pendalaman materi agama, Kajian Malam di masjid ini juga menjadi ruang diskusi interaktif antara ulama dan jemaah muda. Hal ini penting untuk menjawab tantangan zaman terkait bagaimana menjaga kualitas puasa di tengah arus informasi digital yang sangat cepat. Para kiai sering kali menekankan pentingnya adab dalam bermedia sosial sebagai bagian dari menjaga kesempurnaan pahala puasa. Suasana diskusi yang hangat dan kekeluargaan menjadikan kajian ini tidak terasa membosankan, melainkan menjadi kebutuhan rohani yang sangat dinanti setiap harinya. Cahaya lampu temaram di sekitar area Setono Gedong menambah kekhusyukan setiap individu yang hadir untuk bermuhasabah diri.

Keberadaan Kajian Malam di Setono Gedong juga turut menghidupkan ekonomi mikro di sekitar kawasan tersebut. Pedagang buku-buku agama, minyak wangi, hingga penganan tradisional mendapatkan berkah dari banyaknya pengunjung yang datang. Namun, pengelola masjid tetap menjaga ketertiban agar kegiatan ekonomi tidak mengganggu kekhusyukan ibadah. Sinergi antara pelestarian sejarah, pendidikan agama, dan aktivitas sosial ini menjadikan Setono Gedong sebagai pusat peradaban Islam di Kediri yang tetap relevan.