Kondisi ekosistem di lereng Gunung Kelud saat ini berada dalam tahap yang mengkhawatirkan akibat laju deforestasi yang tidak terkendali, sehingga para relawan di Kediri mendesak pemerintah untuk segera melakukan reboisasi massal. Penggundulan hutan yang meluas di kawasan tersebut meningkatkan risiko bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang saat musim hujan tiba. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini mulai kehilangan vegetasinya, meninggalkan tanah yang gundul dan rentan terhadap erosi hebat.

Fenomena memprihatinkan di Gunung Kelud ini telah menarik perhatian berbagai komunitas pecinta alam yang menyadari betapa pentingnya menjaga sabuk hijau di sekitar kawah dan lereng. Tanpa adanya tegakan pohon yang kuat, stabilitas tanah akan terus menurun. Para relawan menegaskan bahwa penanaman kembali tidak bisa lagi ditunda-tunda. Mereka menuntut adanya kebijakan nyata dari pemerintah daerah untuk mengalokasikan sumber daya guna memulihkan kembali fungsi lindung dari hutan yang telah rusak tersebut.

Kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Kelud bukan hanya masalah estetika, melainkan ancaman langsung terhadap pasokan air bersih bagi masyarakat di kaki gunung. Hutan yang terjaga berfungsi menjaga siklus hidrologi agar mata air tetap mengalir meskipun di musim kemarau. Jika penggundulan terus dibiarkan, maka krisis air bersih akan menjadi kenyataan pahit bagi warga Kediri dan sekitarnya dalam beberapa tahun ke depan.

Selain faktor alam, aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab ditengarai menjadi penyebab utama mengapa Gunung Kelud semakin menggundul. Alih fungsi lahan untuk kepentingan komersial tanpa memperhatikan aspek konservasi harus segera dihentikan. Edukasi kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya menjaga hutan juga perlu digencarkan agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan mereka sendiri.

Aksi reboisasi yang didorong oleh relawan ini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan alam Gunung Kelud seperti sediakala. Sinergi antara elemen masyarakat dan pemerintah adalah kunci keberhasilan dalam menghadapi krisis iklim lokal ini. Dengan memulai langkah kecil melalui penanaman bibit hari ini, kita sedang berinvestasi untuk keselamatan generasi mendatang agar terhindar dari ancaman bencana yang bisa datang kapan saja akibat kerusakan alam yang kita buat sendiri.